HomeMetode Sunat
BANNERBRI.png
1.png
3.png
v 1.png

Metode Sunat

1. Sirkumsisi Konvensional (Gunting)     
Melakukan pemotongan preputium (kulit yang menutupi kepala penis) dengan menggunakan gunting. Pada metode ini terjadi perdarahan, sehingga harus dijahit. Biasanya sembuh dalam 3-5 hari dan diganti verban pada hari ketiga.
Merupakan metode yang paling banyak digunakan hingga saat ini, cara ini merupakan penyempurnaan dari metode dorsumsisi dan merupakan metode standar yang digunakan oleh banyak tenaga dokter maupun mantri (perawat). Alat yang digunakan semuanya sesuai dengan standar medis dan membutuhkan keahlian khusus untuk melakukan metode ini.


Kelebihannya peralatannya sudah sesuai standard medis, menggunakan pembiusan lokal dan benang yang jadi daging, risiko infeksi kecil dan risiko perdarahan tidak ada. Metode ini cocok untuk semua kelompok umur, biayanya cukup terjangkau serta pilihan utama untuk pasien dengan kelainan fimosis. Kekurangannya membutuhkan keahlian khusus dari pengkhitan dan proses waktunya antara 20-30 menit.


2. Elektrokautter (Laser)    
Melakukan pemotongan preputium dengan menggunakan laser atau kautter, yakni besi steril yang dipanaskan menggunakan aliran listrik. Meskipun tidak terjadi perdarahan bahkan minimal perdarahan, hasil pemotongan tersebut harus tetaplah dijahit. Biasanya sembuh dalam 2-3 hari.


Metode ini sedang booming dan marak di masyarakat dan lebih dikenal dengan sebutan “Khitan Laser”. Penamaan ini sesungguhnya kurang tepat karena alat yang digunakan samasekali tidak menggunakan Laser akan tetapi menggunakan “elemen” yang dipanaskan. Alatnya berbentuk seperti pistol dengan dua buah lempeng kawat di ujungnya yang saling berhubungan. Jika dialiri listrik, ujung logam akan panas dan memerah. Elemen yang memerah tersebut digunakan untuk memotong kulup.

Khitan dengan solder panas ini kelebihannya adalah cepat, mudah menghentikan perdarahan yang ringan serta cocok untuk anak dibawah usia 10 tahun dimana pembuluh darahnya kecil. Kekurangannya adalah menimbulkan bau yang menyengat seperti “sate” serta dapat menyebabkan luka bakar, metode ini membutuhkan energi listrik sebagai sumber daya dimana jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang berisiko bagi pasien maupun operator.
Untuk proses penyembuhan, dibandingkan dengan cara konvensional itu sifatnya relatif karena tergantung dari sterilisasi alat yang dipakai, proses pengerjaanya dan kebersihan individu yang disunat.


3. Smart klamp (Cincin)    
Ini adalah metode terbaru. Pada metode ini tidak terjadi perdarahan. Karena cincin smartklamp dipasang pada preputium kemudian dipotong menggunakan pisau bisturi. Sehingga tidak perlu dijahit dan diperban. Pasien bisa langsung beraktifitas, meskipun merasa kurang nyaman disebabkan cincin yang terpakai selama 5-7 hari kemudian dilepaskan.


Smart klamp merupakan metode dan teknik sunatan yang diperkenalkan sejak tahun 2001 di Jerman dan penemunya adalah dr. Harrie van Baars. Alat smart klamp terdiri atas beberapa ukuran, mulai dari nomor 10, 13, 16, dan 21. Untuk bayi, alat yang dipakai nomor 10, sedangkan orang dewasa nomor 21. Alat ini terbuat dari dua jenis bahan kunci klamp, yakni nilon dan polikarbonat yang dikemas steril dan sekali pakai. Tentu saja lebih aman dan bebas dari penularan penyakit dan infeksi. Smart klamp memberikan perlindungan luka dengan sistem tertutup. Luka sayatan terkunci rapat, tidak memungkinkan masuknya kuman atau mikroorganisme pengganggu.


Pada metode ini pasien akan diukur glandpenis-nya, ukuran 0-meter. Setelah diberi anestesi lokal, secara hati-hati preputium dibersihkan dan dibebaskan dari perlengketan dengan gland penis. Batas kulit preputium yang akan dibuang ditandai dengan spidol. Tabung smart klamp dimasukkan ke dalam preputium hingga batas corona gland penis. Lalu, klamp pengunci dimasukkan sesuai arah tabung dan diputar 90 derajat, hingga posisi smart klamp siap terkunci.


Setelah posisi kulit yang akan dibuang dipastikan sesuai rencana, juga agar posisi saluran kencing tidak terhalang tabung. Berikutnya, adalah mengunci klamp hingga terdengar bunyi “klik”. Sisi distal preputium dibuang menggunakan pisau bisturi. Kemudian luka dibersihkan dengan obat antiinfeksi dan dibungkus kasa steril. Hingga proses itu, sunat ala smart klamp selesai. Setelah lima hari, smart klamp dilepas dokter atau perawat dengan teknik yang sangat mudah.


Semua metode memiliki resiko yang sama, yakni resiko infeksi, perdarahan pasca sirkumsisi (sunat), nyeri (sakit) setelah efek anastesi, bengkak peradangan. Namun semua resiko dapat diminimalkan dengan tindakan kerja yang steril dan pemberian obat secara oral (minum).